![]() |
| Irawan S Leksono |
Hingga saat ini sedikitnya 164 orang hilang, tiga meninggal dunia dan hanya 18 yang selamat dalam peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun 5. Sedangkan korban di KM Lestari sedikitnya 33 meninggal dunia.
Menyikapi dua tragedi tersebut, Wakil Direktur Eksekutif DPP-PD Irawan S Leksono menyampaikan rasa duka mendalam.
"Peristiwa ini sangat tragis karena korbannya sangat banyak dan terjadi dalam kurun waktu sangat singkat. Bahkan terjadi di dua wilayah NKRI yang sesungguhnya sangat berjauhan jaraknya," ujar Irawan S Leksono kepada wartawan di ruang kerjanya, Kantor Pusat Partai Demokrat, Wisma Proklamasi 41, Pegangsaan, Menteng, Jakarta, Jumat (6/7/2018).
Irawan mengatakan, peristiwa tragis ini tidak boleh terulang karena kapal motor adalah moda transportasi yang sangat diandalkan Masyarakat di sekitar Danau Toba dan Bulukumba serta Selayar.
"Kapal motor tentu sangat diandalkan di daerah-daerah perairan. Indonesia adalah negara maritim, sehingga kita dikelilingi laut. Sementara Danau Toba merupakan satu danau vulkanik terluas dan terindah di dunia, yang pinggirannya dipenuhi masyarakat. Artinya, kapal motor atau moda transportasi perairan lainnya tentu sangat diandalkan bangsa kita. Bahkan mungkin untuk selamanya," Irawan mengingatkan.
Menyikapi hal itu, Irawan berharap pemerintah dan seluruh komponen bangsa terkait bisa melakukan perbaikan secara menyeluruh hingga tragedi ini tidak terulang.
"Kita tentu tidak ingin mencari-cari kesalahan dalam tragedi ini apalagi mempolitisirnya. Ini adalah duka semua anak bangsa sehingga menjadi kewajiban juga bagi kita semua untuk memperbaiki moda transportasi di negeri ini, utamanya moda transportasi perairan," ujar Irawan mengingatkan agar seluruh anak bangsa bisa berjiwa besar.
Begitupun Irawan menegaskan, aparatur penegak hukum harus melakukan penyelidikan mendalam terkait kecelakaan ini.
Siapa pun yang terlibat sehingga tragedi ini terjadi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Itu adalah wujud nyata kepedulian kita terhadap kemanusiaan.
"Sebab, bagaimanapun, nyawa adalah milik kita yang paling berharga. Siapa pun yang mengabaikan kemanusiaan harus diberikan hukuman yang tegas dan keras sehingga kejadian ini tidak terulang," Irawan menggarisbawahi.
Irawan juga meminta agar pemerintah dan seluruh elemen yang terkait dengan moda transportasi perairan semakin meningkatkan pengawasan dan mutu terhadap sarana dan prasarana yang digunakan.
"Misalnya, mengawasi kesiapan kapal-kapal motor yang digunakan. Apakah izinnya masih berlaku, kondisi mesin baik, jumlah penumpang sesuai dengan kemampuan angkut, pelampungnya memadai, dan lainnya," ujar Irawan.
Penerangan yang rutin tentang kesiapan kapal atau keadaan cuaca dan penjelasan cara menyelamatkan diri pada penumpang jika musibah terjadi juga harus diterapkan dengan ketat. Intinya harus didirikan pusat informasi di setiap pelabuhan. Para petugas yang diserahi tanggung jawab harus memiliki kecakapan dan disesuaikan jumlahnya dengan para pengguna kapal.
"Jangan sampai jumlah petugas terlalu sedikit dan tidak menguasai tugasnya sehingga masyarakat tidak tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi musibah," Irawan menekankan.
Meski berat, kata Irawan, perbaikan menyeluruh itu harus dilakukan. Bahkan jika diperlukan pemerintah bisa memberikan subsidi terhadap moda transportasi perairan.
"Tidak ada yang lebih mahal dibandingkan harga nyawa rakyat. Itulah yang harus menjadi filosofi kita sehingga negara ini bisa mewujudkan cita-cita mencapai masyarakat adil-makmur," Irawan mempungkasi




Tidak ada komentar:
Posting Komentar