![]() |
| foto: Irawan S Leksono |
Peringatan itu telah dimulai sejak 8 September 1966.
Tujuan peringatan hari yang disebut juga dengan Hari Buku Internasional ini adalah untuk mempromosikan keaksaraan sebagai alat untuk memberdayakan individu, komunitas dan masyarakat.
Wakil Direktur Eksekutif DPP Partai Demokrat Irawan S Leksono mengatakan, peringatan Hari Aksara Sedunia harus terus dilakukan karena mengenal aksara adalah awal dari peradaban dan kesejahteraan sebuah bangsa.
"Mengenal literasi atau aksara (yang secara umum diartikan mengenal huruf atau mampu membaca) adalah awal sebuah bangsa bisa meningkatkan peradaban dan kesejahteraannya dalam arti luas. Tidak mungkin sebuah bangsa mampu memiliki pengetahuan yang dalam jika bangsa tersebut tidak memiliki literasi. Bagaimana cara menyampaikan pengetahuan itu tanpa aksara atau simbol grafis yang berperan sebagai alat komunikasi? Tentu hal yang mustahil," ujar Irawan kepada wartawan yang menemuinya di ruang kerja, Kantor Pusat Partai Demokrat, Wisma Proklamasi 41, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (8/9)
Pentingnya mengenal aksara atau mampu membaca bahkan menjadi syarat jika seseorang ingin mengenal alam raya ini dengan baik. Bahkan agama apa pun memiliki kitab suci yang harus dibaca dan dilaksanakan, sebagai pedoman menjaga peradaban di dunia.
"Dalam konteks itu, seluruh umat Islam tentu paham surat yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah Surat Al Alaq atau dikenal masyarakat sebagai surat Iqra. Arti dari iqra adalah 'bacalah'. Filosofinya tentu, tidak mungkin kita bisa memiliki pengetahuan dan peradaban yang baik jika tidak mengenal literasi/aksara atau bisa membaca," ujar Irawan.
Caleg untuk DPR-RI dari Dapil Jatim VIII itu juga menyambut baik keberhasilan Pemerintah yang, sejak merdeka, berusaha keras memberantas buta aksara atau buta huruf di masyarakat.
Saat ini berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen atau 3.387.035 jiwa (usia 15-59 tahun) yang belum melek aksara.
"Tidak sampai 3,5 juta jiwa penduduk Indonesia, di usia produktif, yang masih buta aksara atau buta huruf. Ini tentu capaian seluruh pemerintah Indonesia sejak Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Bu Megawati, Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Joko Widodo (Jokowi). Capaian yang layak kita apresiasi dengan baik," ujar Irawan.
Irawan sendiri juga dikenal masyarakat Madiun sebagai sosok yang ikut memberantas buta aksara melalui jalur pendidikan.
Irawan tercatat memiliki dan memimpin Yayasan Al Ikhlas DjojoOetomo di Madiun, Jawa Timur.
Yayasan ini bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Yayasan ini sudah berdiri sejak tahun 2010.
Yayasan Al Ikhlas mengelola masjid peninggalan almarhum ayah dan almarhumah ibu dari Irawan. Yayasan tersebut juga mengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Pendidikan Alquran (TPA), dan Madrasah Diniyah (Madin).
"Ya inilah peran kecil saya untuk semakin meningkatkan kemampuan literasi bangsa Indonesia," kata Irawan dengan rendah hati.
Irawan mengatakan, sebuah bangsa tidak mungkin maju jika mengabaikan aksara. Semua peraturan dan pedoman disampaikan melalui aksara yang makin berkembang dalam kemajuan zaman.
"Justru bangsa Indonesia harus semakin meningkatkan kemampuan literasinya atau keaksaraannya sehingga makin memiliki peradaban yang tinggi, hingga akhirnya bisa mencapai kesejahteraan yang diimpikan. Kata 'peradaban' harus dipahami sebagai kecerdasan, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliki bangsa Indonesia. Kata 'kesejahteraan' harus dimaknai, bangsa Indonesia hidup dalam kedamaian dan kemakmuran," ujar Irawan.
Cita-cita besar itu, kata Irawan, tentu membutuhkan kerja keras tak berkesudahan.
"Tetapi yang pasti semuanya diawali dari kemampuan mengenal literasi atau aksara. Semuanya diawali dengan 'bisa membaca'," Irawan mengakhiri pernyataannya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar